Tampilkan postingan dengan label RAPBN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RAPBN. Tampilkan semua postingan

Konsumsi BBM Bersubsidi 2011 Naik 10 Persen

Posted by Gema Bina Mandiri On Senin, 30 Agustus 2010 0 komentar

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Pemerintah memperkirakan konsumsi bahan bakar minyak bersubsidi selama 2011 akan mencapai 42,55 juta kiloliter atau 10,23 persen lebih banyak dibandingkan prediksi konsumsi 2010 sebesar 38,6 juta kiloliter. Menteri ESDM Darwin Saleh dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR di Jakarta, Senin, mengatakan, prediksi konsumsi 2011 itu dengan asumsi rancang ulang atau "redesign" kebijakan subsidi dan penghematan tidak terlaksana. "Namun, apabila 'redesign' kebijakan subsidi berupa perubahan sistem dari subsidi harga ke model yang lebih tepat sasaran dapat berjalan baik, maka konsumsi BBM subsidi 2011 bisa 36,77 juta kiloliter," katanya.

Sesuai nota keuangan, alokasi BBM subsidi RAPBN 2011 ditetapkan sebesar 36,77 juta kiloliter. Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Tubagus Haryono menambahkan, perkiraan konsumsi sebesar 42,55 juta kiloliter dengan asumsi kapal berbendera Indonesia masih diperbolehkan menggunakan BBM bersubsidi. "Ini terkait azas 'cabotage' yang mengharuskan kapal berbendera Indonesia," katanya.

Asumsi lainnya adalah kapal nelayan di atas 30 gross tones (GT) masih boleh memakai BBM subsidi, kapal pengangkut barang masih pakai BBM subsidi, dan belum adanya pembatasan pemakaian BBM subsidi bagi kendaraan darat, termasuk tambang. Faktor lainnya program konversi minyak tanah ke elpiji masih mengalami kelambatan, belum dilaksanakan distribusi tertutup BBM subsidi, pemanfaatan energi alternatif berjalan lambat, peningkatan jumlah kendaraan bermotor, dan pertumbuhan nelayan, perikanan, dan industri kecil.

Sebelumnya, Tubagus melaporkan, berdasarkan realisasi sampai saat ini, perkiraan konsumsi BBM bersubsidi selama 2010 akan mencapai 38,6 juta kiloliter. Sesuai APBN Perubahan 2010, kuota BBM bersubsidi ditetapkan 36,5 juta kiloliter dengan rincian premium 21,45 juta kiloliter, solar 11,194 juta kiloliter, dan minyak tanah 3,8 juta kiloliter.

Sementara, berdasarkan data PT Pertamina (Persero), selama tujuh bulan pertama 2010, penjualan premium mencapai 13 juta kiloliter atau 60,65 persen dari kuota APBN Perubahan sebesar 21,45 juta kiloliter.
Selanjutnya, solar terjual 7,38 juta kiloliter atau 65,92 persen dari kuota 11,194 juta kiloliter. Sedangkan volume penjualan minyak tanah tercatat 1,45 juta kiloliter atau 38,15 persen dari kuota 3,8 juta kiloliter.
Dengan demikian, secara total konsumsi BBM subsidi mencapai 21,83 juta kiloliter atau 59,8 persen dari kuota 36,5 juta kiloliter.

Menurut Tubagus, sebelumnya BPH Migas memperkirakan, jika tidak terdapat pembatasan, maka konsumsi BBM bersubsidi 2010 bisa membengkak menjadi 40,1 juta kiloliter. "Namun, berdasarkan perkiraan terakhir, konsumsi diperkirakan mencapai 38,6 juta kiloliter," katanya.

Sumber: Red: Krisman Purwoko, ant, Republika OnLine » Breaking News » Ekonomi, Senin, 30 Agustus 2010, 22:07 WIB


Megawati Institute: Target RAPBN 2011 Pesimistis

Posted by Gema Bina Mandiri On Kamis, 26 Agustus 2010 0 komentar

Megawati Institute
Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Megawati Institute Arief Budimanta mengatakan, target Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2011 yang diajukan pemerintah pesimistis.

"Ini seperti trik pemerintah dengan membuat target RAPBN selalu pesimistis, jadi seolah-olah hasilnya pemerintah selalu melebih target, padahal tanpa perlu bekerja, target pemerintah itu bakal tercapai," katanya dalam diskusi di Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan, dalam RAPBN 2011, pemerintah hanya menargetkan pertumbuhan ekonomi 6,3 persen, dengan inflasi 5,3 persen. Sedangkan nilai tukar diperkirakan Rp9.300 per dolar AS dengan suku bunga SBI tiga bulan 6,5 persen.

Lifting minyak sebesar 970 ribu barel per hari, rasio pajak terhadap PDB mencapai 12 persen dan rasio pendapatan negara bukan pajak (PNBP) mencapai 3,5 persen.

Angka-angka itu, menurut dia sangat konservatif. "Pemerintah tidak usaha bekerja juga target itu terlampaui," katanya.

Ia mengatakan, Megawati Institute pada 2011 memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 6,5-7 persen lebih tinggi dari pemerintah dan dengan inflasi yang lebih rendah yaitu 4,5-5,0 persen.

"Kita memahami saat ini pertumbuhan ekonomi dunia terus bergerak, berbagai negara yang sebelumnya melambat ekonominya Eropa, Jepang, Amerika kini terus membaik dan kondisi perekonomian dunia juga membaik," katanya.

Sementara itu, untuk nilai tukar ia mengatakan berada pada level Rp8.500-Rp9.000 per dolar AS, seiring dengan aliran dana yang terus masuk.Sedangkan suku bunga SBI tiga bulan diperkirakan bisa mencapai 5-5,5 persen .

Lifting minyak, menurut dia tak banyak berbeda dengan pemerintah di sekitar 960-975 ribu barel per hari. Selain itu, ia meyakini pemerintah harusnya mampu untuk meningkatkan rasio penerimaan pajak terhadap PDB di atas dari 13,5 persen dan rasio PNBP terhadap PDB lebih besar daripada 3,9 persen.

"Namun kenapa pemerintah hanya menargetkan rasio penerimaan pajak 12 persen dan rasio PNBP 3,5 persen," katanya.

Ia mengatakan, target-target pemerintah tersebut menunjukkan pemerintah tidak ingin bekerja keras. "Pemerintah ini kan hanya citra saja, seolah-olah target bisa terlampaui, tapi sebenarnya tanpa pemerintah pun, target-target itu pasti terlampaui, ini trik pemerintah agar dikatakan berhasil," katanya.

Sumber; Yahoo News, Antara - Jumat, 27 Agustus 2010